| Tenun NTT Rawan Dibajak |
|
|
|
| Ditulis oleh Hans | |
| Thursday, 29 October 2009 20:56 | |
|
"Sementara pasar terbuka tenunan di Tanah Air, memberi peluang bagi pihak lain untuk menjiplak motif-motif berbagai daerah," kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Provinsi NTT, Ny. Lucia Adinda Lebu Raya, di sela acara dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) bertajuk "Budaya Wirausaha Bagi Kaum Muda" di Kupang, Kamis (29/10). Ia mengatakan, pengakuan dari pihak lain atas motif tenunan NTT itu, pernah didengarnya dari peserta sebuah pameran nasional. "Saya melihat dengan jelas bahwa tenun ikat yang dipamerkan itu adalah motif Sumba, tetapi daerah lain yang memamerkan," kata Ny. Lucia. Ia mengatakan, setelah ditelusuri, ternyata tenunan motif Sumba itu dihasilkan oleh penenun dari sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah, di mana ada transmigran asal Sumba yang mengajari orang-orang setempat menenun motif Sumba. Ia juga mengatakan, pihaknya tengah gencar mempromosikan tenun ikat berbagai motif ke pasaran nasional dan telah menanda tangani nota kesepahaman (MoU) dengan sebuah lembaga di Jakarta untuk memasarkan tenun ikat NTT selama setahun. Hanya, peluang ini tidak dimanfaatkan secara optimal oleh perajin di provinsi 566 pulau itu untuk menjual hasil kerajinan mereka. Istri Frans Lebu Raya, Gubernur NTT itu juga mengatakan, dari promosi yang dilakukan di berbagai kegiatan telah berhasil menarik minat banyak pihak, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah mengenakan baju tenun ikat NTT, termasuk juga isteri sejumlah menteri. Namun demikian, para pengguna tenun ikat masih mengeluhkan kualitas kain tenunan yang sering luntur. Promosi dan peluang yang mulai dilirik, katanya, adalah melakukan modifikasi tenunan untuk busana muslim guna dipasarkan Pulau Jawa dan berhasil menarik minat banyak pihak. Bahkan, untuk peringatan meninggalnya mantan Presiden RI, Soeharto, panitia peringatan telah memesan sajadah dari tenun ikat NTT sebanyak 1.000 helai, namun untuk memenuhi permintaan tersebut, Dekranas Provinsi NTT harus memacu para perajin bekerja keras. Dalam acara yang khusus digelar untuk kaum muda itu, Ny. Lucia mengatakan, Dekranas Provinsi NTT juga memberikan pelatihan, terutama kepada para remaja putri yang putus sekolah untuk menggeluti usaha tenun, karena memiliki prospek pasar yang cerah, sekaligus sebagai bagian dari proses regenerasi di kalangan kaum perempuan dalam hal melestarikan tradisi menenun. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Menengah Kecil Menengah (UMKM) NTT itu, Paulus R Tadung, meminta kaum muda di NTT untuk membentuk kelompok usaha agar bisa mengajukan bantuan kepada koperasi atau dana UMKM dan berhak untuk mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari berbagai instansi terkait. erabaru.net |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 07 February 2010 17:50 ) |





Kupang, NTT Online - Motif tenunan tradisional dari berbagai etnis di 21 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), rawan untuk "diklaim" pihak lain, karena hingga kini belum memiliki hak paten paten.